Rabu, 19 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 80

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 80 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 80

Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah, dan memasuki hutan berkabut. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar, ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. Jalanan itu tak bertanda, nyaris tak tampak di antara tumbuh-tumbuhan pakis. Hutan menyelimuti kedua sisinya, hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter, meliuk-liuk seperti ular di sekeliling pepohonan kuno.

Kemudian, setelah beberapa mil, hutan mulai menipis, dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil, atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar, karena ada enam pohon

cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabangcabangnya

yang lebar. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya, membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno.

Aku tak tahu apa yang kuharapkan, tapi jelas bukan yang seperti ini. Rumah itu tampak abadi, elegan, dan barangkali berusia ratusan tahun.

Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar, berlantai tiga, berbentuk persegi dan proporsional. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak di sana. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami, tersembunyi di kegelapan hutan.

"Wow."

“Kau menyukainya?" Ia tersenyum.

"Bangunan ini memiliki pesona tersendiri." Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak.

"Siap?" ia bertanya sambil membukakan pintuku. "Sama sekali tidak—ayo." Aku mencoba tertawa, tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. Aku merapikan rambut dengan gugup.

"Kau cantik." Ia menggenggam tanganku dengan luwes,

tanpa ragu.

Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku; ibu jarinya membuat gerakan melingkar yang menenangkan di punggung tanganku. Ia membukakan pintu untukku.

Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi, lebih tak bisa diramalkan, daripada bagian luarnya. Sangat terang sangat terbuka, dan sangat luas. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar, namun dindingdindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar.

Di bagian belakang dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca, dan di balik bayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. Dindingdindingnya,

langit-langitnya yang tinggi, lantainya yang terbuat dari kayu, dan karpet tebal, semuanya merupakan gradasi warna putih.

Tampak menanti untuk menyambut kami, berdiri persis di kiri pintu, pada bagian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler, adalah orangtua Edward.

Aku pernah melihat dr. Cullen sebelumnya, tentu saja, tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya, kesempurnaannya yang luar biasa. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme, satusatunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya.

Wajahnya berbentuk hati, rambutnya berombak dan halus, berwarna cokelat karamel, mengingatkanku pada era film bisu. Tubuhnya mungil langsing namun tidak terlalu kurus, lebih berisi dibanding yang lainnya.

Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. Mereka tersenyum menyambut kami, tapi tidak bergerak mendekat. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut.

"Carlisle, Esme," suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar, "ini Bella."

"Selamat datang, Bella." Langkah Carlisle terukur, berhati-hati saat mendekatiku. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya.

"Senang bisa bertemu Anda lagi, dr. Cullen."

"Tolong panggil saja Carlisle."

"Carlisle." Aku tersenyum padanya, kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku.

Esme tersenyum dan melangkah maju juga, menjabat tanganku. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan.

"Senang sekali bisa berkenalan denganmu," sahutnya tulus.

"Terima kasih. Aku juga senang bisa bertemu Anda." Memang itulah yang kurasakan.

Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng—Putri Salju dalam wujud aslinya.

"Di mana Alice dan Jasper?" Edward bertanya, tapi mereka tidak menjawab, berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar.

"Hei, Edward!" Alice memanggilnya bersemangat.

Ia berlari menuruni tangga, perpaduan rambut hitam dan kulit putih, sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. Carlisle dan Esme memelototinya, tapi aku menyukainya. Lagi pula, itu sesuatu yang alami—baginya.

"Hai, Bella!" sapa Alice, dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku.

Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati, sekarang mereka tampak terkesiap. Mataku juga memancarkan rasa terkejut, tapi aku juga sangat senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya.

Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku d. sebelahku. Aku memandang wajahnya, tapi ekspresinya tak bisa ditebak.

"Kau memang harum, aku belum pernah memerhatikan sebelumnya." ia berkomentar, membuatku sangat malu.

Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan, kemudian Jasper ada di sana—tinggi bagai singa. Perasaan lega menyeruak dalam diriku, dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas di mana aku tengah berada.

Edward menatap Jasper, salah satu alisnya terangkat, dan aku teringat akan kemampuannya.

"Halo, Bella," sapa Jasper.

Ia tetap menjaga jarak, tidak menawarkan untuk berjabat tangan. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya.

"Halo, Jasper." Aku tersenyum malu-malu padanya, dan pada yang lainnya juga. "Senang bisa bertemu kalian semua—rumah kalian sangat indah." tambahku apa adanya.

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 80 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 80 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: