Rabu, 19 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 79

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 79 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 79

"Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian, jangan lupa itu." "Kau menyimak," ia tersenyum senang.

“Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang." Aku meringis,

"jadi, apakah Alice sudah melihat kedatanganku?" Reaksinya aneh. "Kira-kira begitu," katanya jengah, berpaling sehingga aku tidak melihat matanya. Aku menatapnya penasaran.

“Apakah itu enak?” tanyanya, tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda.

“Jujur, makananmu itu tidak terlalu mengundang selera."

"Well, sama sekali bukan beruang pemarah...," gumamku, mengabaikan tatapan marahnya.

Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. Aku buru-buru menghabiskan serealku, sambil berspekulasi.

Ia berdiri di tengah dapur, mirip patung Adonis lagi, menerawang ke luar jendela belakang. Kemudian tatapannya kembali padaku, dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. "Dan kurasa kau juga harus memperkenalkanku pada ayahmu."

"Dia sudah mengenalmu," aku mengingatkannya.

"Maksudku sebagai pacarmu."

Aku menatapnya curiga. "Kenapa?"

"Bukankah begitu kebiasaannya?" tanyanya polos.

"Aku tidak tahu," aku mengakui. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku di sini.

"Itu tidak perlu, kau tahu. Aku tidak berharap kau... maksudku, kau tak perlu berpura-pura demi aku." Senyumnya penuh kesabaran.

"Aku tidak berpura-pura." Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk, menggigit bibir.

"Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?" desaknya.

"Apakah kau boyfriend-ku?" Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata

"boyfriend— pacar" dalam ruangan yang sama pada waktu bersamaan.

"Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata 'boy’”

"Aku mendapat kesan sebenarnya kau lebih dari itu." aku mengaku, memandangi meja.

"Well, aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu." Ia meraih ke seberang meja, mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.

"Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemah. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku."

"Benarkah?" aku sekonyong-konyong waswas.

"Benarkah kau akan berada di sini?"

"Selama yang kauinginkan," ia meyakinkanku. “Aku akan selalu menginginkanmu," aku mengingatkannya. "Selamanya."

Perlahan ia mengelilingi meja, setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah, mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. Ekspresinya penuh makna.

“Apa itu membuatmu sedih?" tanyaku. Ia tak menyahut. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku.

"Kau sudah selesai?" ia akhirnya bertanya.

Aku melompat berdiri. "Ya."

"Berpakaianlah—aku akan menunggu di sini." Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan.

Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lega rasanya bisa berpikir begitu. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya.

Akhirnya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki – rok panjang, berwarna khaki, masih kasual. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benar-benar berantakan, jadi aku mengucirnya jadi ekor kuda.

“Oke.” Aku melompat-lompat menuruni tangga.

“Aku sudah pantas bepergian.”

Ia menunggu di ujung tangga, lebih dekat dari yang kukira, dan aku langsung menghambur ke arahnya. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat.

"Kau salah lagi," gumamnya di telingaku.

"Kau sangat tidak pantas—tak seorang pun boleh terlihat begitu menggoda, itu tidak adil."

"Menggoda bagaimana?" tanyaku. "Aku bias mengganti...”

Ia mendesah, menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau sangat konyol." Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku, dan ruangan pun berputar. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.

"Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?" katanya.

Jelas itu pertanyaan retoris. Jemarinya perlahan menelusuri tulang belakangku, napasnya semakin menderu di permukaan kulitku. Tanganku membeku di dadanya, dan aku kembali melayang. Ia memiringkan kepala perlahan, dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya, dengan sangat hati-hati membukanya.

Kemudian aku tak sadarkan diri.

“Bella?" suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku.

“Kau... membuatku... jatuh pingsan," aku meracau.

"Apa yang akan kulakukan denganmu!" ia menggerutu, putus asa.

"Kemarin aku menciummu, dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!" Aku tertawa lemah, membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar.

"Dan katamu aku bisa melakukan segalanya.” ia mendesah.

"Itulah masalahnya" Aku masih pusing,

"Kau terlalu pintar melakukannya. Amat sangat terlalu pintar."

"Kau merasa sakit?" ia bertanya; ia pernah melihatku Seperti ini sebelumnya.

"Tidak – pingsanku kali ini berbeda. Aku tak tahu apa yang terjadi." Aku menggeleng menyesalinya.

"Kurasa aku lupa bernapas."

"Aku tak bisa membawamu ke mana-mana dalam keadaan seperti ini.”

"Aku baik-baik saja,” aku bersikeras. “Lagi pula keluargamu toh bakal menganggapku gila. jadi apa bedanya?"

Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. "Aku sangat menyukai warna kulitmu," ujarnya tak disangka-sangka.

Wajahku memerah senang dan berpaling.

"Begini, aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan, jadi bisakah kita berangkat sekarang?" tanyaku.

"Dan kau khawatir, bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua, tapi karena kaupikir vampir-vampir itu tak akan menerimamu, betul?"

"Betul," aku langsung menjawabnya, menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.

Ia menggeleng. "Kau sulit dipercaya."

Aku menyadari, saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota, aku sama sekali tak tahu di mana ia tinggal. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah, jalanan membentang ke utara, rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang, dan semakin besar.

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 79 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 79 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: