Kamis, 20 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 86

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 86 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 86

Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong, jadi aku bertanya, "Hampir selalu?"

Ia mendesah, tampak enggan menjawabnya. "Well, aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja—sekitar sepuluh tahun setelah aku... dilahirkan... diciptakan, terserah bagaimana kau menyebutnya. Aku tidak menyukai caranya berpantang, dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. Jadi aku pergi hidup seorang diri selama beberapa waktu."

"Sungguh?" Aku terpancing, bukannya ketakutan, seperti yang seharusnya kurasakan.

Ia bisa merasakannya. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya, tapi aku tidak terlalu memerhatikan sekelilingku.

"Itu tidak membuatmu takut?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

“Kurasa... kedengarannya masuk akal." Ia tertawa, lebih keras daripada sebelumnya. Kami sekarang berada di anak tangga teratas, di lorong berpanel lainnya.

"Sejak kelahiran baruku," gumamnya,


"aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orang-orang di sekitarku, baik manusia maupun bukan manusia. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle—aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna, mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. "Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. Kupikir aku akan terbebas dari... depresi... yang menyertai hati nurani. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku, aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong gelap tempat dia membunuh seorang gadis muda—kalau aku menyelamatkan gadis itu, maka tentunya aku tidak sejahat itu."

Aku gemetaran, membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya—lorong pada malam hari, gadis yang ketakutan, laki-laki di belakangnya. Dan Edward, Edward yang sedang berburu, menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda, tak terhentikan. Apakah gadis itu berterima kasih, ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya?

"Tapi sejalan dengan waktu, aku mulai melihat monster dalam diriku. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil, tak peduli apa pun alasannya. Dan aku pun kembali kepada Carlisle dan Esme. Mereka menyambutku secara berlebihan. Lebih daripada yang layak kudapatkan."

Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. "Kamarku," ia memberitahuku, membuka dan menarikku masuk.

Kamarnya menghadap ke selatan, dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Pemandangan di sini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan rak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga.


Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Tidak ada tempat tidur, hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan, dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap.

"Perlengkapan audio yang bagus?" aku mencoba menebak.

Ia tergelak dan mengangguk.

Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Suaranya pelan, namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. Aku melihat-lihat koleksi musiknya.

"Bagaimana kau menyusunnya?" aku bertanya.

Ia tidak mendengarkan.

"Mmmm, berdasarkan tahun, lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu," katanya setengah melamun.

Aku berbalik, dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya.

"Apa?"


"Aku tahu aku akan merasa... lega. Setelah kau mengetahui semuanya, aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Ternyata aku menyukainya. Ini membuatku... bahagia." Ia mengangkat bahu, tersenyum samar.

“Aku senang," kataku, balas tersenyum. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Senang mengetahui bukan itu masalahnya.

Tapi kemudian, ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku, senyumnya memudar dan dahinya berkerut. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit, kan?" aku menebak.

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 86 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 86 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: