Rabu, 19 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 52

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 52 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 52

"Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar berpendapat begitu?" Lagi-lagi ia jengkel.

"Ya, aku benar-benar berpendapat begitu." Aku tetap menunduk memandang meja, mataku menelusuri kayunya. Keheningan terus berlanjut.

Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. Aku berusaha keras melawan godaan untuk melihat ekspresinya.

Akhirnya ia bicara, suaranya sangat lembut.

"Kau salah." Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut.

"Kau tak bisa mengetahuinya," bantahku sambil berbisik.

Aku menggeleng ragu, meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya, dan aku ingin sekali memercayainya.

"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Mata topaz-nya sangat menusuk—menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dari dalam benakku.

Aku balas menatapnya, berusaha berpikir jernih, tak peduli seperti apa pun raut wajahnya, dan mencari cara untuk menjelaskan. Ketika aku sedang memilih katakataku, kulihat ia mulai tidak sabar. Gelisah karena sikap diamku, ia mulai kesal. Kuangkat tanganku dari leher, dan mengacungkan satu jari.

“Biarkan aku berpikir," aku berkeras. Keregangan di wajahnya mencair, karena kini ia puas bahwa aku berniat menjawab pertanyaannya.

Kujatuhkan tanganku ke meja, lalu menutupkan keduanya. Aku memandangi tanganku, mengaitkan jemari lalu menguraikannya, ketika akhirnya aku bicara.

"Well, terlepas dari kenyataannya, kadang-kadang..." Aku berhenti.

"Aku tidak yakin—aku tidak tahu caranya membaca pikiran—tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengatakan sesuatu yang lain." Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya.

"Peka," bisiknya. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya, membenarkan ketakutanku. "Tapi justru itulah kenapa kau salah," ia mulai menjelaskan, tapi kemudian matanya menyipit. "Apa maksudmu

'kenyataannya'?"

"Well, lihat aku," kataku, yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. "Aku sungguh-sungguh manusia biasa—Well, kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu, dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. Sedangkan kau?" Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan.

Alisnya mengerut marah sesaat, lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. "Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu," ia tergelak ironis,

"tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu di sini.”

Mataku mengerjap, terperanjat. "Aku tak percaya...," aku menggumam pada diriku sendiri.

"Percayalah sekali ini saja—kau bukan manusia biasa." Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. Aku langsung mengingatkannya tentang argumentasiku sebelumnya.

"Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal," tukasku.

"Tidakkah kau mengerti? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. Akulah yang paling peduli, karena seandainya aku bisa melakukannya”—ia menggeleng, mencoba melawan pendapat itu—"seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan, akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu agar tidak terluka, supaya kau tetap aman."

Aku menatapnya marah. "Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?"

"Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu." Tiba-tiba suasana hatinya yang tak bisa ditebak berubah lagi; senyum jail dan memesona itu muncul di wajahnya.

"Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa seperti pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku."

"Tak seorang pun mencoba membunuhku hari ini," aku mengingatkannya, bersyukur topiknya sudah lebih ringan. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi.

Kalau perlu, kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku... Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku.

"Belum," ia menambahkan.

"Belum," aku setuju. Aku bisa saja mendebatnya, tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar.

"Aku punya pertanyaan lain untukmu." Raut wajahnya masih kasual. “Tanyakan saja."

"Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini, ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merengut mengingat hal itu.

"Kau tahu, aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler," aku mengingatkannya/ "Itu semua salahmu, sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya."

"Oh, dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku— aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu," ia tergelak. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu.

"Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan menolak?" tanyanya, masih tertawa sendiri.

"Mungkin tidak," kataku jujur. "Tapi aku kemudian akan membatalkannya—berpura-pura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki."

Ia bingung. "Kenapa kau melakukan itu?" Aku menggeleng sedih.

"Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga, tapi kupikir kau bakal mengerti."

“Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?"

"Tentu saja."

"Itu bukan masalah." Ia terdengar sangat yakin.

"Sudah sepantasnya." Tahu aku akan memprotes, ia pun menyela.

"Tapi kau tak pernah bilang padaku—apakah kau sudah mantap ingin ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda?"

Selama kata "kita" dilibatkan, aku tak peduli yang lainnya.

"Aku terbuka untuk tawaran lain," kataku. "Tapi aku punya satu permintaan."

Ia tampak waswas, seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. "Apa?"

"Boleh aku yang mengemudi?"

Ia merengut. "Kenapa?"

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 52 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 52 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: