Rabu, 19 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 53

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 53 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 53

"Well, terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle, dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kalau dia bertanya lagi, barangkali aku tidak akan berbohong, tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi, dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut." Ia memutar bola matanya.

"Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut, kau malah takut dengan caraku mengemudi." Ia menggeleng-geleng tak percaya, tapi kemudian matanya berubah serius lagi.

"Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu, kau akan melewatkan hari itu bersamaku?" Ada maksud lain yang tak kumengerti di balik pertanyaannya.

"Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik." Aku yakin soal itu.

"Lagi pula, memangnya kita mau ke mana?"

"Prakiraan cuacanya bagus, jadi aku akan menghilang untuk sementara... dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau." Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku.

"Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?" tanyaku, gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini.

"Ya." Ia tersenyum, lalu terdiam.

"Tapi kalau kau tidak ingin... berduaan denganku, aku tetap tak ingin kau pergi ke Seartle sendirian. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu." Aku jengkel.

"Phoenix tiga kali lebih besar dari pada Seattle—itu baru jumlah populasinya. Untuk ukuran—"

“Tapi nyatanya," ia menyelaku,

"kecelakaan yang kaualami tidak bermula di Phoenix. Jadi, lebih baik kau berada di dekatku." Matanya kembali menyala-nyala.

Aku tak bisa membantah, baik tatapan maupun maksudnya, lagi pula ia benar

"Karena itu sudah terjadi, aku tak keberatan berduaan saja denganmu."

"Aku tahu." desahnya, merenung.

"Meski begitu, kau harus memberitahu Charlie.”

"Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?" Sorot matanya tiba-tiba mengeras.

"Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu."

Aku menelan ludah. Tapi setelah berpikir sesaat, aku menjadi yakin.

“Kurasa aku akan mengambil risiko itu." Ia menghela napas marah, dan memalingkan wajah.

"Kira bicara yang lain saja," usulku.

"Apa yang ingin kaubicarakan?" tanyanya. Ia masih kesal.

Aku memandang sekelilingku, memastikan tak seorang pun mendengarkan. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, aku bertemu pandang dengan adiknya, Alice, yang sedang menatapku.

Yang lain memandangi Edward. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward, dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku.

"Kenapa kau pergi ke Goar Rocks akhir pekan lalu...

untuk berburu? Charlie bilang, itu bukan tempat yang baik untuk hiking, banyak beruang."

Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas.

“Beruang?" aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh.

“Kau tahu, sekarang bukan musim berburu beruang" aku menambahkan dengan tegas, untuk menyembunyikan keterkejutanku.

“Kalau kau membaca dengan teliti, peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata," ia memberitahuku. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara aku perlahan-lahan memahami ucapannya. "Beruang?" ulangku terbata-bata.

"Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett." Suaranya masih tenang, namun matanya mengamati reaksiku. Aku mencoba mengendalikan diri.

"Hmmm," kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke, tanpa memandang ke arahnya.

"Jadi," kataku setelah sesaat, akhirnya menatap matanya yang gelisah. "Kesukaanmu apa?"

Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. "Singa gunung."

"Ah," kataku sopan, berpura-pura tidak tertarik, sambil mencari sodaku lagi.

"Tentu saja," katanya, nada suaranya menyamai nada suaraku,

"kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi binatang predatornya tinggi—menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang, dan itu sebenarnya cukup, tapi di mana kesenangannya?" Ia tersenyum menggoda.

"Ya, benar," aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. "Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett—mereka baru saja selesai hibernasi, jadi lebih pemarah." Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu.

"Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah." Aku mengangguk menyetujuinya.

Ia tertawa terbahak-bahak, menggelengkan kepala.

“Tolong katakan apa yang benar-benar kaupikirkan."

"Aku mencoba membayangkannya—tapi tidak bisa. aku mengakuinya. "Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?"

"Oh, kami punya senjata." Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan.

Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya.

"Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi, kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu."

Aku tak bisa menghentikan rasa rakut yang menjalari punggungku. Aku melirik ke seberang kafetaria, ke arah Emmett, untung ia tidak sedang melihat ke arahku. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi.

Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. Aku menatapnya, ngeri.

"Apa kau juga seperti beruang?" tanyaku pelan. "Lebih seperti singa, atau begitulah kata mereka," katanya enteng. "Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami."

Aku berusaha tersenyum. "Barangkali," aku mengulanginya.

Tapi pikiranku dipenuhi bayanganbayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan.

"Apakah aku akan pernah melihatnya?"

"Tentu saja tidak!" Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya, dan matanya tiba-tiba berkilat marah. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang, tertegun, dan— meskipun tak pernah mengaku padanya—takut melihat reaksinya. Ia juga menyandarkan tubuh, bersedekap.

“Terlalu menakutkan buatku?" tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi.

 

"Kalau memang itu, aku akan mengajakmu keluar malam ini," katanya, nada suaranya dingin.

"Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.”

"Lalu kenapa?" desakku, mencoba mengabaikan kemarahannya.

Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. "Sampai nanti," akhirnya ia berkat, Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri.

“Kita bakal terlambat." Aku memandang berkeliling, ia benar, kafetaria hampir kosong.

Saat aku bersamanya, waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya Aku melompat, meraih tasku dari sandaran kursi. "Kalau begitu, sampai nanti," timpalku. Aku takkan lupa.

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 53 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 53 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: