Kamis, 20 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 82

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 82 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 82

"Aku harus, karena aku akan sedikit... kelewat protektif selama beberapa hari ke depan-atau minggu-dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini seorang tiran."

“Ada apa?"

"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. Mereka tahu kami ada di sini, dan

mereka penasaran.”

"Tamu?"

"Ya... well, mereka tidak seperti kami, tentu saja— maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota, tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi."

Aku bergidik ngeri.

"Akhirnya, respons yang masuk akal!" gumamnya.

"Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu." Aku mengabaikan gurauannya, memalingkan wajah, mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu.


Ia mengikuti arah pandanganku.

"Tidak seperti yang kauharapkan, ya kan?" tanyanya, suaranya terdengar arogan.

"Tidak," aku mengakuinya.

"Tidak ada peti mati, tidak ada tumpukan kerangka di sudut; aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang labalaba... pasti semua ini sangat mengecewakanmu," lanjutnya mengejek. Aku mengabaikannya.

"Begitu ringan... begitu terbuka." Ia terdengar lebih serius saat menjawab.

"Ini satusatunya tempat di mana kami tak perlu bersembunyi." Lagu yang masih dimainkannya, laguku, tiba di bagian akhir, kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis.

Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan.

"Terima kasih," gumamku.

Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. Aku menyekanya, malu. Ia menyentuh sudut mataku, menyeka titik air mata yang tersisa. Ia mengangkat jarinya, mengamati tetes air itu lekatlekat.

Kemudian, begitu cepat hingga aku tak yakin ia benar-benar melakukannya, ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya.

Aku menatapnya bertanya-tanya, dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum.

“Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?"

"Tidak ada peti mati?" aku mengulanginya, kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan.


Kami menaiki anak rangga yang besar-besar, tanganku menyusuri birai rangga yang halus bagai satin. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu, sama seperti lantai keramiknya.

"Kamar Rosalie dan Emmett... ruang kerja Carlisle... kamar Alice..." Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu.

Ia bisa saja melanjutkan, tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu, terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di aras kepalaku. Edward tergelak, menertawai ekspresiku yang bingung.

"Kau boleh tertawa," katanya.

"Bisa dibilang ironis."

Aku tidak tertawa. Tanganku terulur dengan sendirinya, satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu, warna permukaannya yang gelap mengilat, sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan.

Aku tidak menyentuhnya, meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.

"Pasti sudah sangat tua," aku menebaknya.


Ia mengangkat bahu. "Awal 1630-an, kurang-lebih." Aku mengalihkan pandang dari salib itu kepada Edward.

“Mengapa kalian menyimpannya di sini?" aku bertanyatanya.

“Nostalgia. Itu milik ayah Carlisle."

“Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu.

"Tidak. Dia mengukirnya sendiri. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan." Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku, tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu, untuk berjaga-jaga.

Aku langsung menghitung dalam hari; salib itu berusia lebih dari 370 tahun. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahun-tahun yang begitu banyak.

"Kau baik-baik saja?" Ia terdengar waswas.

"Berapa umur Carlisle?" tanyaku pelan, mengabaikan pertanyaannya, masih memandangi salib.

"Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-362," jawab Edward.

Aku kembali menatapnya, berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku.

Ia memerhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara.

"Carlisle lahir di London, pada tahun 1640-an, menurutnya. Lagi pula bagi orang-orang awam, saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. Meski begitu, saat itu tepat sebelum pemerintahan Cromwell."

Aku tetap menjaga ekspresiku, sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba memercayainya.

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 82 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 82 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: