Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .
Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.
Sekarang, kalian membaca Novel Twilight Bab 77 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊
Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 77
“Kau sudah siap tidur?" tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. "Atau kau punya pertanyaan lagi?"
"Hanya sejuta atau dua.”
"Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
"Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?" Aku menginginkan kepastian. "Lagi pula, kau ini makhluk legenda."
"Aku takkan meninggalkanmu." Suaranya memancarkan kesungguhan.
"Kalau begitu, satu lagi malam ini..." Dan aku pun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu—aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran."
"Bella, kau bisa bertanya apa pun padaku." Aku tak menyahut, dan ia mengerang.
“Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustrasi
bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru makin parah dan lebih parah lagi."
“Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau." "Please?" Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng.
"Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tingga menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” lagi-lagi, suara bujuk rayu itu.
“Well,” aku memulainya, senang ia tidak bisa melihat wajahku
"Ya?"
"Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?"
Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. "Apakah itu arah pembicaraanmu?"
Aku gelisah, tak mampu menjawab.
"Ya, kurasa kurang-lebih sama," katanya. "Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi."
Aku hanya bisa menggumamkan "Oh." "Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?" "Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari..."
Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya.
"Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita." “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?"
"Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja." Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak
tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku.
"Kalau aku terlalu gegabah... seandainya satu detik saja aku tak cukup memerhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu.” Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam.
“Kau takut?" tanyanya.
Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. "Tidak, aku baik-baik saja."
Ia seperti berpikir selama sesaat.
"Meski begitu, sekarang aku penasaran," katanya, suaranya kembali ringan.
"Kau sudah pernah.." ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.
“Tentu saja belum." Wajahku memerah.
"Sudah kubilang aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain, sedikit pun tidak."
"Aku tahu. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan." "Bagiku ya. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku," aku mendesah.
"Bagus. Setidaknya kita punya persamaan." Ia terdengar puas.
"Naluri manusiamu...," aku memulai. Ia menanti.
"Well, apakah kau menganggapku menarik dari segi itu, sama sekali?"
Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering.
"Aku mungkin bukan manusia, tapi aku laki-laki," ia meyakinkanku.
Aku menguap tanpa sengaja.
“Aku telah menjawab pertanyaanmu, sekarang kau harus tidur," ia bersikeras.
"Aku tak yakin apakah aku bisa."
“Kau mau aku pergi?"
"Tidak!" seruku terlalu lantang.
Ia tertawa, kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi, nina bobo yang asing, suara malaikat, lembut di telingaku.
Lebih letih daripada yang kusadari, lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya, aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.
Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 77 Telah Selesai
Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 77 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.
Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.
Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :
- Novel Lelaki Yang Tak Terlihat Kaya
- Novel Romantis Pengantin Pengganti
- Novel Elena : Si Gadis Tangguh
- Novel Charlie Wade Si Kharismatik
- Novel Romantis My Lovely Boss
- Novel Perintah Kaisar Naga
- Novel My Imperfect CEO
- NOVEL KISAH ISTRI BAYARAN
- Novel Perceraian Ke-99

0 komentar: