Rabu, 19 Oktober 2022

Baca Selengkapnya Novel Twilight Pandangan Pertama Bab 55

Novel Twilight merupakan novel seri pertama dari novel karangan Stephenie Meyer. Stephen juga mengeluarkan seri lanjutan dari Novel Twilight ini yaitu seri Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn .

Dalam novel karya pertama dari Stephenie Meyer ini kalian akan menemukan adegan-adegan yang menguras emosi seperti adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi. Ceritanya juga diangkat menjadi film layar lebar yang selalu ditunggu-tunggu setiap serinya oleh para penggemar.

Sekarang, kalian  membaca Novel Twilight Bab 55 ini secara gratis dalam website Great Novel. Semoga bisa memberi para pembaca sekalian hiburan 😊



Baca Selengkapnya Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 55

Kami berjalan tanpa bicara—aku diam karena malu dan geram—menuju mobilnya. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya, langkahku terhenti— kerumunan orang, semua cowok, tampak mengerumuninya.

Lalu aku tersadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo, melainkan mobil convertible merah Rosalie, mereka tampak sangat tertarik. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap di antara mereka dan membuka pintu mobilnya. Aku langsung masuk ke jok penumpang, juga luput dari perhatian.

"Kelewat mencolok," gumamnya.

"Mobil apa itu?" tanyaku.

"M3."

"Aku tidak paham jenis-jenis mobil."

"Itu keluaran BMW" Ia memutar bola matanya, tanpa memandangku, mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.

Aku mengangguk—aku pernah mendengarnya.

"Kau masih marah?" tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah.

"Jelas."

Ia menghela napas. "Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?'

"Mungkin... kalau kau bersungguh-sungguh. Dan kalau kau berjanji tidak mengulanginya lagi," aku bersikeras.

Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. "Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh, dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?" ujarnya.

Aku mempertimbangkannya, dan memutuskan barangkali itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. "Setuju," sahutku.

"Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah." Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama—membuat irama jantungku berantakan—kemudian berubah jadi santai.

"Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti."

"Mmm, rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya." Senyumannya kini rendah hati.

"Aku tidak berencana membawa mobil." "Bagaimana—" menyelaku.

"Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa mobil."

Aku tidak mendesaknya lagi. Aku punya pertanyaan yang lebih penting.

“Apakah sudah tiba saatnya?" tanyaku.

Dahinya berkerut. "Kurasa sudah.”

Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu. Ia menghentikan mobilnya. Aku mendongak, terkejut— tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku.

Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. Ketika aku menatapnya lagi, ia sedang menatapku, mengamatiku. "Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?" Ia tampak serius, tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.

"Well" ujarku, "aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu."

"Apa aku membuatmu takut?" Ya, sudah jelas ia sedang melucu.

"Tidak," aku berbohong. Ia tidak percaya. Aku minta maaf telah membuatmu takut," ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul, tapi kemudian semua gurauan ini lenyap.

"Hanya saja membayangkan kau ada di sana... sementara kami berburu." Rahangnya mengeras.

"Pasti buruk?" Ia berkata dengan rahang rapat.

"Sangat."

"Karena..."

Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan, ke awan-awan yang menggayut tebal, yang seolah dapat diraih.

"Ketika kami berburu," katanya pelan, dengan enggan, kami, membiarkan indra mengendalikan diri kami... tanpa banyak menggunakan pikiran. Terutama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan

kendali seperti itu...” Ia menggeleng, masih menatap awanawan tebal itu dengan murung.

Aku tetap menjaga ekspresiku, menantikan kelebaran matanya yang beberapa saat kemudian mengamati reaksiku atas ucapannya. Wajahku tidak menunjukkan apa-apa. Namun pandangan kami bertemu, dan keheningan itu semakin kental—dan berubah.

Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. Ketika kepalaku mulai berputar, aku sadar aku tak bernapas. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar, memecah kekakuan di antara kami, ia memejamkan mata.

"Bella, kurasa kau harus masuk sekarang." Suaranya rendah dan serak, matanya kembali menatap awan. Kubuka pintunya, dan embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku.

Khawatir kehilangan keseimbangan, dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik.

“Oh, Bella?" ia memanggilku, suaranya lebih tenang. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka, tersenyum tipis.

"Ya?"

“Besok giliranku."

“Giliran apa?" Senyumnya melebar, memamerkan kilauan deretan giginya.

“Bertanya padamu."

Lalu ia menghilang, mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. Jelas ia berencana menemuiku besok, kalau tak ada halangan.

Malam itu Edward muncul dalam mimpiku, seperti biasa. Bagaimanapun tidurku berubah. Mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya, dan aku berguling kian kemari, gelisah, hingga sering kali terbangun.

Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. Ketika terbangun aku masih merasa lelah, tapi juga tegang. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan jinsku, sambil mendesah membayangkan tank top dan celana pendek. Makan pagi berlangsung biasa, tenang seperti yang kuharapkan.

Charlie menggoreng telur untuknya sendiri; aku makan semangkuk sereal. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring.

"Mengenai Sabtu ini...," katanya, berjalan menyeberangi dapur, dan menyalakan keran.

Aku berkata takut-takut, "Ya, Dad?"

"Kau masih kepingin ke Seattle?" tanyanya.

"Begitulah rencanaku." Aku nyengir, berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat.

"Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?"

“Aku tidak akan ke pesta dansa, Dad." Aku menatapnya jengkel.

“Tak adakah yang mengajakmu?" tanyanya, berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring.=

Novel Twilight – Pandangan Pertama Bab 55 Telah Selesai

Bagaimana Novel Twilight - Pandangan Pertama Bab 55 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Dapatkan update Novel Terbaru pilihan dari kita dan sudah aku susun daftar lengkap novelnya ya free buat kalian yang suka baca. Mari bergabung di Grup Telegram "Novel Update", caranya klik link https://t.me/novelkupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca Juga Novel Lainnya Dibawah yang Pastinya Seru Juga :

Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya

0 komentar: