Selasa, 18 Oktober 2022

Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 12

Novel Elena : Si Gadis Tangguh karya Ellya Ningsih, Merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang istri yang diduakan oleh suaminya yang bernama Ibnu. Dia harus memilih diantara harus bertahan dalam ikatan halalnya meski menyakiti hatinya atau pergi demi ketenenangan dan kebahagiaannya.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh ini meskipun ditulis dalam bahasa yang sederhana namun mampu memikat para penggemar setianya. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan ditunggu-tunggu setiap babnya oleh para pembaca. Nah, ayo mari kita simak Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 12 Berikut ini.




Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 12

“Siapa lelaki itu?” Elena terdiam. Mukanya pucat pasi. “Sebegitu cintanyakah kau padanya sampai-sampai tak mau mengatakan siapa dia demi melindunginya?” “Bukan, bukan begitu. Maksudku ...”

“Siapa?” “Masa lalu, Mas. Menyebut namanya cuma akan menggores luka lamaku.”

“Jadi cuma kau saja yang berhak terluka? Luka masa lalumu itu meninggalkan jejak sampai ke masa depan yang aku harus hidup dengannya setiap hari. Dan itu bisa membuatku gila!”

Elena meraih jemari tangan kanan Ibnu, terlihat luka-luka yang belum mengering. Diciuminya dengan berlinangan air mata. Hatinya gentar, Ibnu bisa dibilang tak pernah marah dankiniia harus menghadapi kemurkaannya.

“Ampuni aku, Mas. Aku salah. Aku khilaf. Aku menyesal. Aku sudah benar benar bertobat hanya saja dulu aku malu mengakuinya. Aku takut ... aku takut kau meninggalkanku.”

“Lalu kau pikir sekarang aku tak akan meninggalkanmu?” Elena tersentak.

Dijatuhkan dirinya bersimpuh memeluk kedua kaki Ibnu. Menangis tersedu-sedu. Ibnu bergeming. Tangannya terkepal, gemeletuk giginya beradu. Setengah mati menahan amarahnya. Ia beristighfar lalu duduk di sisi tempat tidur Maryam, Elena masih menggelayuti kakinya.

“Kapan?” Ibnu kembali bertanya singkat.

Elena tak kuasa menjawab, napasnya tersengal tersedu-sedan.

“Apa malam itu waktu kau tak pulang?” Elena mengangguk perlahan, makin erat memeluk kaki Ibnu.

Seandainya sujud di kakinya bisa meredakan murkanya, pasti akan ia lakukan. Ia sungguh-sungguh tak ingin kehilangan pintu surga terdekat yang bisa diraihnya. Untuk beberapa menit lamanya Ibnu terdiam, mukanya masih merah padam. Sampai akhirnya terdengar suara pintu diketuk. Elena buru-buru menyusut airmatanya.

“Cuci mukamu,” titah Ibnu seraya bangkit meninggalkan Elena yang masih terduduk di lantai.

 “Assalamualaikum ...........”

“Waalaikumsalam. Papa, Mama, silakan masuk. Naik kereta jam berapa dari Bandung? Kenapa tidak berkabar? Biar kami jemput di stasiun.”

“Ah tidak usah, kalian pasti repot. Lagipula banyak taksi online sekarang, hahaha.”

“Mana Elena? Mana cucuku?” tak sabar mama mertua Ibnu hendak beranjak masuk ke dalam kamar.

Elena keluar dengan mata sembab, basuhan air dingin di wajahnya tak bisa menutupi kesedihannya. Dihampiri orangtuanya, dicium tangan keduanya dengan takzim.

“Kau menangis, Elena? Ada apa? Apa kalian baik-baik saja? Cucuku sehat kan?” cecar Mama.

“Aku cuma terharu dan agak letih, Ma.” Elena masuk kamar kemudian keluarlagi menggendong bayi mungilnya, mahluk kecil itu menggeliat.

Mama dan Papa memperhatikannya dengan gemas. Elena berharap si kecil sementara terus terlelap. Ia tidak bisa membayangkan menerima lebih dari satu kemarahan dalam satu hari Elena pasrah saat Mama mengambil alih dari gendongannya.

Mama menciuminya bertubi-tubi hingga bayi dalam gendongan itu terbangun dan membuka matanya. Seketika kedua orangtua Elena terbelalak melihat bola mata bayi itu berwarna coklat kebiruan. Elena buru-buru mengambil bayinya.

“Anak siapa itu Elena!” tanya Mama dengan suara keras. Elena ciut.

“Jadi kau berselingkuh, masih dengan lelaki bule itu hah! Dasar anak tak tahu diri!” Papa hampir melayangkan telapak tangannya ke arah Elena.

Ibnu maju, melindungi Elena di belakangnya punggungnya.

“Sabar, Pah. Kalau ada yang boleh memukul Elena saat ini, maka sayalah yang paling berhak melakukannya.” Ibnu berkata tegas.

“Kamu masih membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu? Tak terpikirkah olehmu bagaimana kelak orang-orang menjadikan kalian bahan perbincangan. Ini aib!”

“Saya tidak membelanya. Tapi Elena istri saya dan saya tidak akan membiarkan kekerasan fisik untuk memberinya pelajaran. Biarkan saja orang-orang dengan prasangkanya. Lebih baik Mama dan Papa beristirahat saja dulu di kamar Maryam.”

“Tidak. Kami mau langsung pulang saja. Ayo, Ma.” Papa membalikkan badan keluar rumah diikuti Mama yang mulai terisak. “Biar saya antar, Pah.”

“Tidak usah. Kau urus saja istrimu itu.”

“Maafkan Elena, Pa, Ma.” Elena mengejar keduanya sambil menyodorkan tangan namun ditolak.

Hati Elena semakin hancur. Ia menangis tersedu. Kedua orangtua Elena berlalu dengan menahan kemarahan.

“Kau menyakiti hati banyak orang, Elena.” ujar Ibnu dengan pandangan mata tajam menghujam ke jantung Elena.

“Maafkan aku ...” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Elena yang bergetar menahan tangis.

“Aku butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Begitu juga kau. Aku akan mengantarkanmu besok ke rumah Abah dan Ummi. Tinggalah di sana untuk beberapa waktu, bersama Maryam.”

Sebenarnya Elena tak ingin jauh-jauh dari Ibnu tapi tak ada yang bisa dilakukan selain mematuhi suaminya saat ini. Ia hanya bisa mengangguk. Ibnu meninggalkan Elena yang terpaku di tempatnya, masuk ke kamar Maryam dan menutup pintu.

Abah dan Ummi Izza menyambut kedatangan mereka bertiga. Maryam melompat-lompat kegirangan melihat Ibnu, Elena dan adik bayinya datang.

“Abah, saya ijin menitipkan Elena dan anak-anak di sini boleh?”

“Kau mau ke mana, Nak?” tanya Ummi Izza lembut.

“Tidak ke mana-mana, Ummi. Hanya beberapa hari ke depan saya sibuk dan bisa jadi pulang malam terus. Kasihan Elena.” terang Ibnu, ia tidak berbohong.

Ia memang sibuk dan kesibukan menolongnya untuk memberikan jarak antara ia dan Elena untuk sementara waktu.

“Baiklah. Tentu boleh. Oya siapa nama anak ini? Rencananya kapan akikah? Biar kami bantu pelaksanaanya.” kata Abah.

“Dalam pekan ini juga boleh. Nanti saya titipkan ke Elena sejumlah uang untuk persiapannya, tolong dibantu ya Abah dan Ummi.” “Alhamdulillaah. Jadi siapa namanya?”

“Biar Elena yang memberi nama,” sahut Ibnu melirik ke arah Elena.

“Namanya Al ... Al Fatih,” jawab Elena yang sejak pertama datang hanya terdiam menunduk.

“Masyaa Allah, nama yang bagus sekali.” ujar Abah Abdullah.

“Permisi Abah, Ummi, kepalaku sedikit sakit. Aku ijin masuk kamar untuk rebahan,” kata Elena perlahan.

“Ya ya ya, istirahatlah. Abah mau mengajak Ibnu ke masjid untuk sholat berjamaah. Sekalian mengobrol.”

“Aku ikut Ibu,” sela Maryam. Ummi Izza bangkit mengantar Elena, Al dan Maryam ke kamar yang dulu ditempati Safitri. Ibnu mengekor sambil kedua tangan kekarnya membawa dua buah koper berisi pakaian dalam sekali angkut. Menaruhnya di kamar lalu bergegas keluar lagi tanpa sepatah katapun.

Elena membaringkan bayinya di tempat tidur, membiarkan Maryam bermain di sebelah Al.

“Ada apa, Elena?” tanya Ummi Izza lembut.

“Aku harusnya dihukum rajam sampai mati, Ummi!” Elena menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ummi, terisak.

Ummi menghela napas panjang lalu diusap-usapnya kepala Elena.

“Apa dengan lelaki itu? Orang asing yang Safitri pernah ceritakan pada Ummi?” Elena mengangguk.

 “Allah melarang manusia untuk mendekati zina, Elena. Dekat-dekat saja tidak boleh. Karena mendekati saja sudah banyak potensi untuk terjerumus di dalamnya. Dan kalau sudah masuk perangkap syetan maka kerusakan demi kerusakan akan terjadi. Zina itu tipu daya syetan menyesatkan manusia dari pernikahan yang halal.”

“Aku menyesal, Ummi. Aku sudah bertobat pada Allah. Aku sudah memohon ampun pada Ibnu. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.”

“Tidak ada jalan hijrah yang mudah, harga surga tidaklah murah. Allah sedang menguji kejujuran tobatmu maka bersabarlah. Allah yang memberi ujian, Allah yang memegang kunci jawaban. Ujiannya berbeda-beda sesuai tingkatan. Allah tidakmemintakita untukmenemukan jalan keluar dari setiap masalah, Allah cuma suruh kita sholat dan tetap sabar dalam ketaatan nanti Allah yang akan menunjukkan kita pada jalan keluar yang tidak disangka-sangka. Bersabarlah, berdoalah minta pertolongan Allah.” nasehat Ummi Izza panjang. Elena mengangguk pasrah.

Dihapusnya airmatanya. Ia harus tetap tegar demi Al. Ibnu berjalan perlahan mengiringi langkah Abah ke arah masjid. Adzan Dzhuhur masih setengah jam lagi.

“Ada masalah apa, Nak Ibnu?” tanya Abah.

“Al bukan anakku, Abah ...” Ibnu menjawab pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Abah menghela napas berat, “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Ini terlalu berat untuk kutanggung. Aku ...” Abah menghentikan langkahnya.

Menatap Ibnu mencari jawaban yang jujur. “Apakah kau akan menceraikan Elena?”


Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 12 Telah Selesai

Bagaimana Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 12 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 11

Novel Elena : Si Gadis Tangguh karya Ellya Ningsih, Merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang istri yang diduakan oleh suaminya yang bernama Ibnu. Dia harus memilih diantara harus bertahan dalam ikatan halalnya meski menyakiti hatinya atau pergi demi ketenenangan dan kebahagiaannya.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh ini meskipun ditulis dalam bahasa yang sederhana namun mampu memikat para penggemar setianya. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan ditunggu-tunggu setiap babnya oleh para pembaca. Nah, ayo mari kita simak Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 11 Berikut ini.





Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 11

Ibnu memperhatikan sosok mungil itu sambil tersenyum, kulitnya putih bersih, pipinya bulat, badannya montok, hidungnya mancung. Senyum Ibnu berangsur surut ketika ia melihat bola matanya ... coklat kebiruan.

Mencoba tetap bersikap biasa, hati hati Ibnu menyerahkan kembali bayi itu ke tangan perawat dengan tangan bergetar. Lalu ia keluar ruangan menuju mushola untuk sholat shubuh, sungguh ia butuh audiensi khusus dengan Rabbnya.

Beberapa pasang mata perawat memperhatikannya sambil berbisik-bisik namun ia tidak mempedulikannya. memacu Ibnu mobilnya dengan kecepatan tinggi ke sebuah tanah lapang, berhenti di tengahnya dan memencet klakson dengan keras berkali-kali. Hatinya dipenuhi amarah, sekarang ia paham betapa batas cinta dan benci itu lebih tipis dari kulit ari.

‘Baiklah, aku tidak boleh gegabah’, dalam hati ia mencoba menenangkan diri.

Diatur napasnya yang tersengal. Bisa jadi matanya berwarna coklat kebiruan karena nenek Elena memang keturunan Eropa. Tapi sependek pengetahuannya, hanya satu di antara enam orang yang lahir dengan warna mata biru di dunia.

Penyebabnya adalah sangat sedikitnya jumlah melanin di stroma mata. Secara genetik ini bersifat resesif sehingga membutuhkan multigen untuk dapat melahirkan bayi bermata biru. Artinya gen resesif hanya akan muncul apabila berpasangan dengan gen resesif lain.

Sementara tak ada seorangpun bermata biru di keturunan keluarga Ibnu. Entahlah! Ia merasakan sakit kepala. Sambil menghentak-hentakkan dahinya ke atas setir berkali-kali, bibirnya komat-kamit terus beristighfar. Kedua matanya terasa panas, begitu juga hatinya.

‘Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?’ lirihnya dalam hati. Ibnu kembali ke rumah sakit.

Ia mengetuk ruangan dokter Hana yang membantu persalinan Elena. Seorang muslimah, setengah baya. “Assalamualaikum dokter, boleh saya masuk?”

“Waalaikumsalam. Saya belum mulai jam praktek, Pak.” “Maaf dokter, sebentar saja. Saya mohon.” Wanita itu menatap sekilas pada wajah lelah dan kusut Ibnu, lalu menghela napas sedikit iba.

“Baiklah, lima menit.” Elenamenatap bayimungildipelukannya yang sedang berusaha menyusu dengan gigih. Airmatanya menetes, ketakutannya menjadi kenyataan.

Dengan sekali pandang, ia sudah tahu si kecil ini mirip siapa. Terlalu kentara untuk tidak dianggap berbeda. Pun begitu selayaknya seorang ibu, ia tetap mencintainya. Ia akan mempertahankan apapun resikonya. Seorang perawat masuk membawa sarapan dan beberapa vitamin.

"Kakak, lihat suamiku, bukan?" Elena bertanya. “Maaf, Bu. Saya belum melihat Anda sejak pagi ini.

"Dia menjawab dan mengucapkan selamat tinggal. Elena gelisah, entah dari mana suaminya sekarang. "Apakah dia baik-baik saja? Pertanyaan bodoh! ', Dia mengutuk dirinya sendiri.

Tentu saja tidak. oke. Hati siapa yang tidak patah hati? Setelah kesabarannya selama ini, ia bahkan dikaruniai seorang anak yang bukan dari benihnya.

"Assalamualaikum..." terdengar suara dari pintu diiringi ketukan pelan. Allah, Abah… Ummi Izza… Maryam…” Buru- Buru-buru ia menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan bergo panjangnya.

menyambut tamu yang datang dengan mata berkaca-kaca. Mereka adalah orangtua Safitri yang sudah sejak kecil dikenalnya. Orang-orang baik dengan hati seluas samudra, tak heran Safitri tumbuh dengan akhlak yang mulia dalam didikan keduanya. Untuk beberapa saat Ummi Izza memeluk Elena hangat sambil mengusap kepala sampai ke punggungnya dan Elena tak kuasa untuk tidak terisak, bebannya terlalu berat.

“Nenek, permisi. Aku mau lihat adik baruku.” Maryam tak sabar menarik-narik abaya Ummi Izza sehingga pelukannya terlepas dari Elena.

“Haha Maryam anak Ibu yang cantik dan shalihah, sini sini nak.” Elena mengulurkan satu tangannya. Maryam mendekat dengan antusias. Lalu dengan lembut ia mencium pipi adik bayi itu, “Muaaaaaah…” katanya. "Adik bayi yang lucu, mata biru.

Baunya seperti jus jambu biji, ”Maryam bernyanyi dan semua orang tertawa ... canggung.

"Di mana Ibnu?" tanya Abah.

"Mungkin keluar untuk sarapan. Dia belum makan dari kemarin,” jawab Elena ragu-ragu. Mata tertuju pada Ummi Izza, wanita tua itu tersenyum sambil mengangguk dengan bijak.

Dia tahu persis siapa Elena dan apa posisinya saat ini.

“Abah coba cari tahu,” kata Abah. Elena mengangguk.

"Kapan kamu bisa pulang?" Ummi bertanya Izza.Iamengambil alih bayi darigendongan Elena, kemudian satu tangannya menyodorkan nampan sarapan. Secara tidak langsung menyuruhnya makan.

“Besok, Umm. Alhamdulillaah,” jawab Elena.

sudah datang “Mama Papa menjengukmu?”

“Belum Umm, mungkin baru bisa datang besok atau lusa katanya.” Elena menjawab sambil mulai menyantap sarapannya.

Mereka berbincang-bincang ringan, sesekali tertawa menimpali tutur dan tingkah Maryam. Nampak sekali Ummi Izza berusaha mengalihkan perhatian Elena dari kegelisahan dan kesedihannya. Selang beberapa lama, Ibnu dan Abah kembali ke kamar membawa buah dan susu segar untuk Elena.

“Sudah sarapan, Mas?” tanya Elena. “Sudah,” jawab Ibnu singkat. Elena merasakan bahwa suaminya enggan memandangnya.

“Kami pamit pulang dulu ya. Untuk sementara waktu biarlah Maryam tinggal bersama kami dulu sampai Elena pulih benar,” kata Ummi Izza. “Bagaimana Maryam?” tanya Ibnu.

“Aku suka tinggal bersama Nenek. Tapi aku juga ingin membantu Ibu mengurus adik bayi,” sahut Maryam manja.

“Kamiakanmenjemputmusecepatnya,” Ibnu tersenyum sambil mengusap kepala Maryam.

“Baiklah,” Maryam kembali mencium pipi adik bayinya yang tertidur pulas di gendongan Ummi Izza.

Ummi Izza meletakkan hati-hati tubuh mungil di box bayi. Lalu berpamitan, mencium kedua pipi Elena dan berpelukan.

“Sebaik-baik penebusan dosa itu di dunia, maka bertahanlah nak dengan kesabaran yang banyak ...” Ummi Izza berbisik perlahan.

Elena mengangguk angguk sambil kembali meneteskan airmata. Ibnu menutup pintu perlahan setelah mereka bertiga pergi. Ia masih acuh tak acuh dengan Elena.

“Mas ...” “Jangan sekarang, Elena. Kita berdua butuh istirahat,” Ibnu menahan Elena berbicara dengan mengangkat tangannya sedikit ke udara. Ia tetap tidak memandang Elena.

Ibnu mengambil bantallalu merebahkan dirinya di sofa membelakangi Elena, pura pura tidur. Elena mendesah pendek. Hatinya sakit tapi ia tahu hati Ibnu jauh lebih terluka parah. Ia hanya mampu memperhatikan suaminya tanpa berkata apa-apa, ia kehilangan sosok lembut dan hangat. Air matanya menetes lagi. Siang keesokan harinya, setelah membereskan semua administrasi dan bersiap pulang. Ibnu kembali menemui dokter Hana sesuai perjanjian yang dibuatnya kemarin, seorang diri.

“Silakan duduk, Pak.” “Terima kasih, Dokter. Bagaimana hasilnya?” tanya Ibnu tanpa berbasa-basi. Dokter Hana menyodorkan sebuah amplop.

Ibnu membukanya, membaca sekilas lalu memasukkan kembali ke dalam amplop.

“Saya tidak paham, Dokter. Tolong katakan saja dengan bahasa yang mudah, apakah ia anak saya atau bukan?” Ibnu bertanya lagi dengan sedikit tidak sabar.

Dokter Hana menghela napas berat, dari awal ia sudah mencium ketidakberesan.

“Dari hasil tes darah yang tertera di kertas itu, dapat kami simpulan bahwa bayi itu bukan dari benih Bapak. Manusia Golongan darahnya A, B, AB dan O dengan rhesus (+) atau (-). Orang Asia seoerti kitabiasanya rhesus (+), hanya 2% yang (-) yaitu keturunan orang Asia yang menikah dengan orang Asing namun untuk lebih yakinnya, Bapak bisa melakukan tes DNA.”

“Tidak perlu,” Ibnu menjawab singkat, mukanya merah menahan marah.

“Selain tes DNA yang tadi saya usulkan dan tes darah yang sudah Bapak lakukan, sebenarnya seiring berjalannya waktu akan terlihat dengan sendirinya melalui kemiripan wajah atau anggota tubuh, kemiripan karakter dan ikatan batin yang sangat kuat meskipun berpisah lama.”

“Saya sudah menduga, Dokter. Saya hanya perlu penegasan untuk lebih yakinnya. Terima kasih, Dok. Saya mohon tolong rahasiakan.”

“Jangan khawatir, Pak. Salah satu tanggungjawabkamiadalah merahasiakan data pasien.”

“Terima kasih, Dokter.”

“Sama-sama.” Ibnu keluar dari ruangan dokter, rahangnya mengeras sementara tangannya terkepal.

Ia berbelok ke arah kamar kecil dan tak kuasa menahan gejolak dalam hatinya. Dihantamnya dinding lorong beberapa kali dengan tangan kanan untuk meluapkan emosi. Belum pernah ia merasakan semarah ini dalam hidupnya.

Bercak darah membekas di dinding, buku buku jemari bagian luar Ibnu terluka. Tapi sakitnya tidak sebanding dengan luka di dalam hatinya. Ah, rupanya inilah yang Elena sembunyikan dalam diamnya. Ibnu kembali ke kamar, menjemput Elena dan bayinya.

Mengendarai mobil pulang ke rumah tanpa berkata apa-apa. Elena merasa tersiksa. Sampai di rumah, Ibnu meninggalkan Elena terperangah di kamarnya yang ternyata sudah dihias sedemikian rupa dengan balon-balon berwarna biru.

Sementara ia seorang diri masuk ke dalam kamar Maryam. Elena tak tahan lagi. Diletakkannya bayi mungil yang terlelap itu ke dalam box bayi yang sudah disiapkan Ibnu beberapa waktu sebelum kelahirannya. Ia menghampiri Ibnu di kamar Maryam.

“Mas ...” Ibnu menoleh sebentar lalu memalingkan mukanya tanpa sepatah katapun.

“Mas ... marahlah, makilah, pukul aku. Tapi aku mohon jangan diamkan aku. Bicaralah. Aku tak tahan tidak kau acuhkan ...”

“siapa lelaki itu?” tegas ibnu.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 11 Telah Selesai

Bagaimana Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 11 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 10

Novel Elena : Si Gadis Tangguh karya Ellya Ningsih, Merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang istri yang diduakan oleh suaminya yang bernama Ibnu. Dia harus memilih diantara harus bertahan dalam ikatan halalnya meski menyakiti hatinya atau pergi demi ketenenangan dan kebahagiaannya.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh ini meskipun ditulis dalam bahasa yang sederhana namun mampu memikat para penggemar setianya. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan ditunggu-tunggu setiap babnya oleh para pembaca. Nah, ayo mari kita simak Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 10 Berikut ini.




Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 10

“Safitri dulu pun seperti ini ketika minggu-minggu pertama mengandung Maryam ...”

Ibnu berujar hati-hati. Elena kaget setengah mati mendengar perkataan Ibnu. Ia tidak pernah terpikir sampai ke sana. Mungkinkah? Dua garis merah, positif.

Elena menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi, gelisah. Bayangan malam itu bersama Eugene menghantuinya.

Meskipun ia juga telah melalui banyak malam dengan Ibnu namun bagaimana jika janin yang di rahimnya ini adalah ... tubuh Elena melorot sampai pada posisi jongkok, ia tak kuasa membayangkannya. Ketika Ibnu mengetahui kehamilan Elena dan kondisi Elena yang terus terusan muntah, ia memutuskan Elena harus berhenti bekerja dan beristirahat di rumah.

Elena langsung menyetujuinya, selama ini pun ia merasa was-was setiap hari khawatir Eugene nekad tiba-tiba mendatanginya di kantor setelah tidak pernah berhasil menghubunginya.

Trimester pertama yang sangat berat untuk Elena, bukan hanya karena mual muntah serta hilangnya nafsu makan tapi juga karena beban pikiran. Sikap Ibnu yang semakin perhatian menambah perasaan bersalah Elena namun ia tak berani mengakui dosa-dosanya.

Kegelisahan Elena mengantarkannya lebih dekat kepada Rabb-nya. Ia belajar memperbaiki sholatnya. Mulai belajar membaca Al Quran dari mengeja alif ba ta.

Ibnu membimbingnya menghapal surat surat pendek setiap malam sambil terus mengelus perut Elena. Seringkali Ibnu menemukan Elena terjaga di sepertiga malam, mendirikan sholat dan terisak di hamparan sajadahnya.

Ibnu melihat metamorfosa Elena sebagai bentuk tobat yang jujur. Apalagi setelah rutin menghadiri majelis ilmu, ahlak dan kepribadian Elena berubah menjadi lebih indah. Ia juga semakin dekat dengan Maryam. Bukan hanya itu, Elena sekarang sudah nyaman mengenakan gamis dan kerudung yang menutup dada dan bagian belakangnya.

Bahkan selalu berkaos kaki keluar rumah, meski hanya ke warung tetangga. Safitri benar, Ibnu mulai jatuh cinta pada sosok Elena. Hanya saja ada satu hal yang mengganggu pikiran Ibnu, sejak menyadari kehamilannya Elena berubah menjadi lebih pendiam dan sering terlihat murung. Setiap kali ditanya, ia selalu menjawab bahwa semua baik-baik saja.

Tapi ia tahu, Elena menyembunyikan sesuatu. Elena sedang duduk di teras depan rumahnya, menikmati sore berdua dengan Maryam. Bercengkrama sambil menikmati coklat hangat dan roti bakar buatan Elena.

“Maukah kau ceritakan tentang ummi?” tanya Elena pada Maryam.

“Tentu saja,” jawabnya sumringah.

“Ummi selalu menyempatkan waktu berdua bersamaku, seperti kita sekarang ini. Sambil menyisir rambuku, ia akan memberi nasehat panjaaaaaaaaaaaaang sekali. Tapi aku tak pernah bosan mendengarnya.”

“Oh ya? Nasehat apa yang paling sering ummi sampaikan?”

“Ya kata ummi, perempuan itu cuma punya dua pilihan. Menjadi sebaik-baik perhiasan atau seburuk-buruk fitnah,” ujar Maryam sambil memainkan ujung kerudung Elena.

 “Memangnya kau mengerti maksud nasehat ummi tadi?” tanya Elena penasaran.

“Awalnya tidak tapi kemudian ummi menjelaskan bahwa Islam sudah mengangkat kemuliaan perempuan jadi jangan malah merusaknya sendiri. Ummi mengatakan bahwa wanita itu istimewa dan cantik karena Islam mewajibkannya untuk menutup auratnya agar terjaga, menjadi perhiasan terbaik. Jika tidak menutup aurat hanya akan merugikan diri sendiri dan menjadi ujian bagi orang lain,”

kata Maryam Panjang. 'Masyaa Allah... gadis sekecil ini sudah mengerti batasan aurat, padahal baru mulai belajar taat', keluh Elena malu.

"Apakah kamu mencintai Ummi?" Elena bertanya lagi.

"Sayaaaaaaang." "Apakah kamu mencintaiku?" Maryam memeluk

"Sayaaaaang," Elena.

"Baiklah, apakah kamu ingin mengajar padaku apa-apa saja yang Ummi, apakah Anda punya saran untuk saya? ” Maryam mengangguk antusias. Elena mencium kepala Mary,

 "Terima kasih." Di tengah malam, Elena terbangun, merasa basah di bagian bawah perutnya sebelum akhirnya sakit maag memuncak.

Yang mengejutkannya, sepertinya cairan ketuban telah pecah sehingga membasahi tempat tidurnya.

“Mas…” Elena menyentuh pipi Ibn dan membangunkannya, masih berusaha tenang.

 Suami tipe Ibn waspada, sekali usapan lembut telah membuatnya terjaga.

“Ya ya, apa sudah waktunya? Ya Allah, air ketubannya sudah pecah, Elena!”

seru Ibnu mulai panik. Elena mengangguk lemah, dahinya berpeluh menahan rasa mulas yang datang dan pergi yang semakin sering. Dengan sigap diraihnya tas berisikan perlengkapan melahirkan yang sudah siap sedia di dekat tempat tidur. Lalu ia membopong Elena hati-hati masuk ke dalam mobil. Ibnu kembali lagi ke rumah, kali ini ia keluar menggendong Maryam yang masih tertidur dan meletakkannya di bangku tengah.

 “Sabar ya, tahan ... istighfar yang banyak,” Ibnu mengucapkan itu berkali kali.

Satu tangannya menyetir mobil sedang satu tangan lainnya memegang gawai berusaha menghubungi seseorang.

“Assalamualaikum, Abah? Ini aku, Ibnu. Elena sudah waktunya melahirkan, kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.

Bisakah Abah dan Ummi menjemput Maryam dan menemaninya sementara waktu? Baik, baik.

Terima kasih banyak. Assalamualaikum,” Ibnu menutup pembicaraannya dan memasukkan gawainya ke saku kemejanya.

“Siapa yang kau telepon?” tanya Elena lemah.

“Abah,” jawab Ibnu singkat.

Melajukan mobilnya lebih cepat. Elena mengerang, sebelah tangan Ibnu sigap meraih tangan Elena dan menggenggamnya seolah ingin mentransfer sebagian kekuatan untuknya. Elena meremas jemari Ibnu setiap kontraksi itu datang.

Tiba di rumah sakit, pegawai medis dengan sigap menyambut Elena. Hanya selang beberapa menit kemudian, abah dan ummi datang tergopoh-gopoh. Ibnu langsung mengoper Maryam ke dalam gendongan Abah.

Matanya memohon restu kepada kedua orang itu, abah menepuk-nepuk pundak Ibnu. Setengah berlari ia menyusul Elena ke kamar bersalin, seorang perawat menahannya di pintu tapi kemudian memperbolehkannya masuk. Sepanjang proses persalinan, Ibnu menggenggam tangan Elena menguatkannya. Diingatkannya Elena untuk terus menyebut asma Allah.

Sesekali diusapnya keringat bercampur airmata di wajah Elena dengan penuh kasih. Tepat adzan shubuh, setelah berjuang berjam-jam akhirnya Elena melahirkan seorang bayi laki-laki. Ibnu mengucap syukur dan tak kuasa membendung buliran bening dari matanya.

Dihujaninya Elena dengan kecupan di kepalanya dan ucapan terima kasih. Elena ikut menangis terharu. Seorang suster menyodorkan bayi merah yang terbungkus selimut kepada Ibnu. Bayi itu menangis keras dengan mata terpejam. Dengan hati-hati Ibnu menerimanya, menciumnya kemudian memperdengarkan adzan di telinganya.

Ia menimangnya perlahan dan membisikkan doa-doa. Tangis bayi di pelukannya sedikit demi sedikit mereda, seperti menikmati suara merdu Ibnu. Kemudian matanya terbuka dan sosok Ibnu yang pertama kali dilihatnya. Ibnu memperhatikan sosok mungil itu sambil tersenyum, kulitnya putih bersih, pipinya bulat, badannya montok, hidungnya mancung. Senyum Ibnu berangsur surut ketika ia melihat bola matanya ... coklat kebiruan.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 10 Telah Selesai

Bagaimana Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 10 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 9

Novel Elena : Si Gadis Tangguh karya Ellya Ningsih, Merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang istri yang diduakan oleh suaminya yang bernama Ibnu. Dia harus memilih diantara harus bertahan dalam ikatan halalnya meski menyakiti hatinya atau pergi demi ketenenangan dan kebahagiaannya.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh ini meskipun ditulis dalam bahasa yang sederhana namun mampu memikat para penggemar setianya. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan ditunggu-tunggu setiap babnya oleh para pembaca. Nah, ayo mari kita simak Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 9 Berikut ini.




Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 9

Elena membuka lipatan kertas yang disodorkan Ibnu, dibacanya perlahan sambil sesekali menahan napas.

-------------------------------------------

Untuk: Ibnu

suamiku tercinta dan Elena, sahabatku tersayang warrohmatullaahi Assalamualaikum wabarokatuh. Aku menulis surat ini, atas nama cinta yang besarnya hanya Allah saja yang tahu.

Saat kalian baca ini kemungkinan besar aku sudah tidak ada di antara kalian. Doakan aku. Ketahuilah kalian adalah dua orang istimewa dalam hidupku yang kucintai karena Allah, selain Maryam, Abah dan Ummi.

Suamiku sayang, aku tahu permintaan ini terasa berat. Percayalah aku bukan tak yakin akan kesetiaan dan cintamu padaku. Hanya saja aku tak ingin kebahagiaan yang pernah aku rasakan bersamamu ini cuma milikku sendiri. Aku ingin berbagi dengan sahabatku, Elena.

Kau pasti bertanya-tanya, kenapa Elena? Karena aku yakin ada kebaikan luar biasa pada dirinya, hanya ia belum menyadarinya. Sebagaimana aku melihatmu pada saat orangtuamu datang ke rumahku.

Aku tau hidayah itu hak prerogatif Allah, tapi bukankah pintu seringkali tidak terbuka jika tidak diketuk? Dan aku ingin kau yang mengetuk pintu itu untuk Elena, karena aku tidak mempunyai kesempatan mengetuknya sendiri.

Ajak ia untuk bersama-sama hijrah belajar menjadi lebih baik di jalan Allah. Aku mencintaimu dan menyayangi Elena, berharap kelak kita semua bisa berkumpul bersama di Jannah-Nya. Suamiku sayang, bersabarlah atas Elena. Ia, dengan ijin Allah, akan menjadi shalihah pada waktunya.

Dan untukmu Elena sayang, menyerahlah pada Rabb-mu. Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik, sekelam apa pun masa lalu yang kau punya. Jangan khawatirkan sakit hatimu, biar Allah yang menyembuhkannya.

Jangan kalian khawatirkan perasaan cinta yang belum hadir di antara kalian. Cintai saja Allah dulu. Orang yang sama-sama mencintai Allah, keduanya tidak akan sulit untuk saling jatuh cinta. Titip peluk cium untuk Maryam, sampaikan setiap hari padanya bahwa aku mencintainya. Tolong jaga ia untukku. Wassalamualaikum,

Safitri

----------------------------------------------------------


Tangis Elena menghebat, Ibnu bangkit meraihnya dalam pelukannya. Ia merasa hati Elena pada akhirnya telah terketuk, bukan olehnya tapi oleh Safitri melalui suratnya. Seorang pelayan datang membawa pesanan. Elena buru-buru menyusut airmatanya.

“Maryam, ayo kemari. Minum dulu lalu kita pulang, maghrib hampir menjelang,” panggil Ibnu.

Selepas sholat Isya di masjid, Ibnu masuk ke dalam kamar dan mendapati Elena terisak di atas sajadahnya. Ibnu menutup pintu kamar perlahan lalu menguncinya. Dihampirinya Elena, mengusap kepalanya yang masih tertutup mukenah. Tiba-tiba Elena berbalik, memeluk kedua kaki Ibnu.

 “Maafkan aku, Mas. Maafkan ...”

parau suara Elena diantara isak tangisnya, ia tak kuasa mengakui dosa-dosa di hadapan suaminya. Ibnu melepaskan pelukan Elena di kakinya, meraih tangannya dan mengajaknya berdiri. Diangkatnya dagu Elena, lembut jemarinya menghapus air mata Elena yang jatuh berderai di pipinya.

“Aku memaafkanmu,”

Ibnu menatap dalam-dalam mata Elena sambil tersenyum.

Lalu membenamkan kepala Elena ke dadanya. Shubuh berikutnya sepulang dari masjid, Ibnu tersenyum bahagia melihat Elena sudah bangun dan sedang mendirikan sholat di kamarnya. Sekitar jam enam pagi, Ibnu dan Maryam sedang sarapan di meja makan ketika Elena datang menghampiri.

Keduanya tertegun lama menyaksikan pemandangan di depan matanya, mulut Ibnu terlihat sedikit ternganga.

“Apa aku tak pantas memakainya?”

tanya Elena takut-takut. Ibnu masih belum bisa berkata apa-apa. Di hadapannya Elena berdiri mengenakan setelan blouse merah hati dan rok hitam panjang semata kaki. Kepalanya tertutup kerudung motif bunga-bunga dengan warna senada. Elena terlihat sangat anggun dan berbeda. Maryam tiba-tiba berdiri, berjalan ke arah Elena kemudian meraih jemari Elena.

“Cantik sekali. Sekarang sudah mirip Ummi sedikit,” ujarnya sambil menarik Elena duduk di sebelahnya.

Elena tersipu, mendapati Ibnu tak kunjung melepaskan pandangannya. Ada desir halus hadir dalam dada. Bunyi klakson terdengar beberapa kali, mobil jemputan sekolah datang.

Maryam buru-buru memakai tas sekolahnya, dia mencium tangan Ibn lalu berlari keluar. Tidak lama kemudian, dia berlari kembali. Mendekati Elena yang masih duduk, dia meraih tangan kanan Elena dan menciumnya dengan hormat lalu mencium pipi Elena lalu berlalu.

Elena sedikit terkejut karena sebelumnya Maryam tidak pernah ingin mencium tangannya, apalagi pipinya. Dia kemudian tertawa kecil. Elena menyelesaikan sarapannya dan bangkit untuk membawa piring dan gelas kotor ke wastafel. Dia sedang mencuci tangannya ketika Ibn memeluknya dari belakang.

Dan desisan itu menjadi lebih jelas, Elena canggung.

"Kau terlihat sangat cantik pagi ini. Apakah Anda pikir tidak apa-apa jika kita datang terlambat untuk bekerja kadang-kadang? ”

Pertanyaan itu terdengar lebih seperti menggoda ditelinga Elena. Tapiia taktahan untuk tidak mengiyakan. Ia membalikkan badannya, mengangguk pelan sementara wajahnya bersemu semakin tersipu.

Elena sudah membulatkan tekadnya. Ia akan memutuskan hubungannya dengan Eugene, jangan tanya tentang cinta hatinya masih sama. Tapi ia tak sanggup lagi dalam murka Rabb-nya. Ditekannya nomor telepon rumah Eugene dari gawainya. Terdengar nada sambung.

“Halo,” sapa Elena hatinya mulai ragu.

“Elena, Elena kau baik-baik saja? Aku mencoba menghubungimu puluhan kali sejak aku tiba di Kanada.

Apa yang terjadi?” Eugene langsung mengenali suara Elena dan mencecarnya dengan penuh kecemasan.

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Dengarkan aku, Eugene.

Aku berniat untuk hijrah memperbaiki diriku dan agamaku. Karenanya, aku akan meninggalkanmu ...” suara Elena hampir hilang tercekat, ia merasakan sebagian dirinya ikut tercerabut ketika mengatakan itu.

“Apa maksudmu? Aku tak paham. Apakah ini ada hubungannya dengan malam itu? Aku minta maaf, Elena. Aku mohon ... aku akan datang secepatnya menemuimu. Tolong jangan begitu ... Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku akan membawamu pergi. Tunggu aku,” tuturnya tersengal.

Elena merasakan kepanikan dan ketakutan Eugene, airmatanya menetes. Diteguhkannya hatinya lalu memencet tombol‘end’.

Tangannya meraba kalung pemberian Eugene. Dilepaskannya dengan hati-hati, dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil lalu disimpan di dalam tas. Kening Elena berpeluh, badannya terasa dingin dan lemas.

Seluruh isi perutnya sudah dikeluarkan namun ia tetap merasakan mual. Beberapa hari ini ia merasakan kurang enak badan. Terdengar pintu kamar mandi diketuk dari luar perlahan.

“Elena, kau tidak apa-apa?” tanya Ibnu cemas.

“Aku cuma masuk angin,” jawab Elena lemas sambil membuka kunci kamar mandi.

Ibnu menuntun Elena ke tempat tidur, disusunnya bantal sedemikian rupa demi membuat kepala Elena rebah dengan lebih nyaman. Lalu dioleskannya minyak kayu putih ke punggung dan perut Elena.

“Makan dulu, ya? Aku ambilkan,” tawar Ibnu. Elena menggeleng, ia lelah muntah setiap kali mencoba menelan sesuatu. Indra perasa dan penciumannya terasa lebih sensitif belakangan ini.

“Safitri dulu pun seperti ini ketika minggu-minggu pertama mengandung Maryam ...”

Ibnu berujar hati-hati. Elena kaget setengah mati mendengar perkataan Ibnu. Ia tidak pernah terpikir sampai ke sana. Mungkinkah?

Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 9 Telah Selesai

Bagaimana Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 9 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 8

Novel Elena : Si Gadis Tangguh karya Ellya Ningsih, Merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang istri yang diduakan oleh suaminya yang bernama Ibnu. Dia harus memilih diantara harus bertahan dalam ikatan halalnya meski menyakiti hatinya atau pergi demi ketenenangan dan kebahagiaannya.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh ini meskipun ditulis dalam bahasa yang sederhana namun mampu memikat para penggemar setianya. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan ditunggu-tunggu setiap babnya oleh para pembaca. Nah, ayo mari kita simak Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 8 Berikut ini.




Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 8

*masih flashback ke tujuh tahun lalu*

Dan begitulah pernikahan Elena dan Ibnu dilatarbelakangi niat yang berbeda. Kesalehan dan kesabaran Ibnu sama sekali tidak menyentuh hati Elena.

Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah Elena bahkan menyelinap kembali ke pria yang dicintainya. Eugene. Mereka tetap dalam hubungan rahasia sampai mereka akhirnya terjebak dalam perzinahan yang sempurna.

Elena mengedipkan matanya yang berair. Ingatannya dipenuhi dengan kebaikan suaminya. Ibn selalu memperlakukannya dengan lembut dan tidak pernah memaksanya untuk menjadi shalihah secara instan.

Dia ingat bagaimana setiap pagi setelah pulang dari masjid, suaminya membangunkannya dengan duduk di sisi tempat tidur sambil melanjutkan bacaan sambil menggosok kakinya dan tidak bergerak sampai dia benar-benar bangun untuk sholat. Dia ingat berapa banyak sepertiga malam yang dihabiskan suaminya dalam doa dan mendengar namanya disebutkan dalam doa sesudahnya.

Dia ingat kebiasaan suaminya mencium keningnya setiap pagi sebelum berangkat kerja, membacakan ayat yang sama dari Al-Qur'an dan sampai hari ini dia tidak mengerti apa artinya.

Dia ingat entah bagaimanabanyak gamis dan kerudung yang dihadiahkan padanya tapi hanya ucapan basa-basi terima kasih yang ia berikan sebagai balasan tanpa ada keinginan untuk mengenakannya.

Pun begitu Ibnu tak pernah berlaku kasar, jika ia marah maka ia akan meninggalkannya sendirian dan tidur di kamar Maryam. Kini rasa bersalah dan menyesal mulai merasuki hatinya,

‘ya Allah dosa dan maksiatku pastilah sudah sedemikian banyaknya sampai-sampai hatiku mati dan tidak peduli dengan kebaikan yang hadir di depan mata’.

Elena terisak pelan, sakit kepalanya semakin tak tertahan dan ia pun tertidur dalam kelelahan. Beberapa jam kemudian, Elena terbangun. Ia mendengar langkah kaki yang dikenalnya mendekat tapi rasa bersalahnya menahannya untuk tetap memejamkan matanya dan pura-pura tidur.

Ibnu masuk ke dalam kamar, meletakkan segelas teh manis hangat di atas meja rias. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur, diperhatikannya Elena yang meringkuk membelakanginya. Punggung telapak tangan kanannya terjulur ke dahi Elena,

yakin istrinya tidak demam tangannya turun mengusap punggung Elena beberapa kali. Jantung Elena berdebar merasakan pembaringannya sedikit terguncang ketika Ibnu memperbaiki posisi tubuhnya separuh berbaring, mendekatkan kepalanya ke kepala Elena.

Sungguh Elena takut Ibnu bisa mencium rasa bersalahnya. Elena bisa merasakan hangat napas Ibnu ketika mencium ubun-ubun Elena, dibisikkannya sebuah doa yang sama yang sering ia dengar sebelumnya.

‘Rabbana hablana min azwajinaa wadhurriyatinaa qurrota’ayun wajalnaa lil muttaqina imamaa ...’

 “Elena ... bangun,” Ibnu mengguncang lembut bahu Elena.

Elena pura-pura menggeliat lalu membuka matanya perlahan dan menemukan wajah Ibnu yang tersenyum begitu dekat dengan wajahnya. Untuk kali pertama ia mampu membalas kelembutan tatapan suaminya dan menikmati keindahan itu dengan rasa syukur dan hati yang berdebar.

“Bangun, aku buatkan teh manis supaya perutmu hangat. Sholat Ashar dulu sudah jam empat lewat, aku mau mengajakmu dan Maryam ke suatu tempat.”

Seperti biasa, Ibnu tak akan beranjak sebelum ia benar-benar bangkit dari tempat tidur. Disodorkannya segelas teh manis, Elena hampir meminumnya ketika tangan Ibnu menahan gelasnya.

“Bismillah dulu,” Elena tersipu. “Bismillah ...” Elena, Ibnu dan Maryam tiba di sebuah pemakaman.

Di sebuah gundukan tanah tanpa bata hanya sepotong papan sebagai nisan langkah mereka terhenti. Ibnu berjongkok mengusap nisan, mengucapkan salam lalu berdoa dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Maryam berjongkok dekat ayahnya, gadis kecil itu tak pernah bisa dekat dengan Elena. Bisa jadi karena Elena yang enggan. Elena hanya bisa terpaku diam memperhatikan keduanya.

Tak lama, mereka bertiga meninggalkan area pemakaman. Ibnu mengajak mereka ke sebuah taman. Sementara Maryam bermain ayunan, Elena dan Ibnu duduk berhadap-hadapan di bangku yang disediakan di bawah tenda payung. Mereka memesan minuman dan kudapan.

“Kau tahu makam siapa yang barusan kita kunjungi?” “Mendiang istrimu ...” Ibnumengangguk.

Laluia mengeluarkan dari tas pinggangnya belasan foto yang di antaranya kusam termakan waktu.

“Kau mengenalnya?” Elena menggeleng sekilas tak yakin, tapi kemudian matanya tertarik pada sebuah foto lama.

Dua orang anak kecil duduk di sebuah bangku panjang memakan es krim sambil tertawa.

“Itu aku!” Elena berseru terkejut. Tangannya meraih foto-foto yang bertebaran di atas meja mengumpulkan dalam genggamannya dan melihatnya dengan saksama satu persatu. Airmatanya turun perlahan.

 “Kenal?” Ibnu kembali bertanya.

Elena mengangguk-anggukkan ke palanya cepat sambil beberapa kali mengusap air matanya. Tangannya masih terus menggilir foto-foto itu.

“Ini ... Pipit, aku memanggilnya Pipit.Jadi Safitri itu Pipit ... sahabat kecilku, adalah istrimu dulu. Ia telah lama berpulang dan aku baru saja tahu ...” Elena tak kuasa menahan kesedihannya, kedua telapak tangannya ditelungkupkan di wajah piasnya.

Tangisnya menghebat.

Pipit adalah sahabatnya dari kecil.

Orangtuanya memiliki beberapa yayasan dan pondok pesantren. Ia mulai jarang bertemu dengannya ketika mereka mengambil tempat kuliah yang berbeda. Pipit mendalami agama sementara ia memilih bahasa asing sesuai ambisinya, keliling dunia.

Walaupun hampir tidak pernah bertemu tapi mereka seringkali bertukar kabar dan cerita melalui telepon. Kalaulah ada yang paling rajin mengingatkan hubungan tidak sehatnya dengan Eugene, Pipitlah orangnya.

Jika ada yang mengingatkan untuk memegang teguh keislamannya, Pipitlah yang paling gigih. Dan bila ada yang berhasil mengurungkan niatnya untuk kabur bersama Eugene, sudah pasti Pipitlah satu-satunya yang melakukannya.

Elena berhenti pada satu foto pernikahan yang ia ada di dalamnya. Ia mendongak menatap Ibnu tak percaya.

“Aku hadir di pernikahan kalian ...” Elena mencoba mengingat-ingat, ya itulah terakhir kali ia bertemu Safitri.

“Ya, hanya sebentar saja. Kau datang terburu-buru dan bisa dibilang sama sekali tak menghiraukanku.” “Kau ... sekarang terlihat jauh berbeda dari foto ini,” Elena menatap Ibnu masih tak percaya.

“Kami dulu dijodohkan. Orangtuaku memohon agar orangtua Safitri berkenan menikahkan anaknya denganku. Aku dulu bukan orang baik, Elena. Entah mengapa pada akhirnya mereka menerima lamaran orangtuaku. Saat itu Safitri hanya meminta satu syarat, agar aku tidak pernah berbohong padanya. Aku dulu tak mencintainya tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya Allah mengijinkan keshalihannya menjadi pembuka pintu hidayah untukku. Ia mengajariku banyak hal. Dan pada saat aku benar-benar jatuh cinta padanya, Allah mengambilnya kembali.”

Ibnu meletakkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas panjang dan dalam. Sementara Elena masih terisak. Ibnu mengeluarkan secarik kertas yang kusut karena terlalu sering dibaca. Menyodorkannya pada Elena.

“Di hari-hari terakhirnya, ia memaksaku untuk berjanji akan menikahimu dan aku tak kuasa untuk tidak mengabulkannya,” tutur Ibnu dengan suara bergetar.

Elena tiba-tiba ingat telepon konyol Pipit beberapa tahun yang lalu, yang memintanya untuk menikah dengan suaminya dan menjadi saudara perempuan madu.

Elena hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan menganggapnya gila. Tentu saja dia menolak. Elena membuka lipatan kertas yang diberikan Ibn padanya, dia membacanya perlahan sambil sesekali menahan napas.

Catatan: Doa:

 'Rabbana hablana min azwajinaa wadhurriyatinaa qurrota'ayun wajalnaa lil muttaqina imamaa'. Diambil dari QS. Al-Furqon: 74 yang artinya “Ya Tuhan kami, berilah kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penghibur (kami), dan jadikanlah kami imam-imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Furqan: 74)

 

Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 8 Telah Selesai

Bagaimana Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 8 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 7

Novel Elena : Si Gadis Tangguh karya Ellya Ningsih, Merupakan sebuah novel yang menceritakan seorang istri yang diduakan oleh suaminya yang bernama Ibnu. Dia harus memilih diantara harus bertahan dalam ikatan halalnya meski menyakiti hatinya atau pergi demi ketenenangan dan kebahagiaannya.

Novel Elena : Si Gadis Tangguh ini meskipun ditulis dalam bahasa yang sederhana namun mampu memikat para penggemar setianya. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan ditunggu-tunggu setiap babnya oleh para pembaca. Nah, ayo mari kita simak Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 7 Berikut ini.




Baca Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 7 

Masih flashback tujuh tahun yang lalu

Sepanjang perjalanan pulang Elena merasakan sakit kepala. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Satu setengah jam kemudian ia sampai di rumah. Bergegas dibukanya kunci pintu, ia ingin segera masuk dan merebahkan badannya. Begitu pintu terbuka, Elena terkejut setengah mati mendapati seseorang duduk bertopang kaki persis di hadapannya.

Lelaki itu terlelap di kursi. Wajahnya terlihat letih. Secangkir kopi yang hanya bersisa ampasnya serta beberapa buku yang tergeletak di meja seperti menceritakan bahwa ia telah menunggu semalaman. Elena mengutuk dirinya sendiri, istri macam apa yang membiarkan suaminya tertidur di kursi sementara ia tidur dengan lain lelaki? Elena memperhatikan wajah teduhnya.

Alisnya hitam tebal dan saling bertaut. Hidungnya mancung. Rahangnya kokoh. Bibirnya kemerahan tak tersentuh rokok. Janggutnya terawat rapih. Sungguh bukan lelaki dengan kriteria ketampanan di bawah rata-rata. Namun mengapa ia tak kunjung mencintainya? Eleneberdehemsekalilalumengucapkan salam,

“Assalamualaikum ...”

Lelaki itu masih bergeming. Elena mendekat hendak menyelipkan bantal sofa untuk mengganjal kepalanya yang terkulai ketika tetiba ia terbangun dan memegang tangannya.

“Kau sudah pulang ... akhirnya. Alhamdulillaah. Aku khawatir sekali. Aku mencoba menghubungimu ke kantor tapi Office Boy bilang kau sudah pulang. Telepon genggammu mati semalaman. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya penuh kecemasan.

“Aku mampir ke rumah teman. Lalu merasa kurang enak badan sampai akhirnya ketiduran. Maafkan aku, Mas ...” Elena tak sanggup menatap mata teduh itu ketika ia berbohong.

“Harusnya kau mengabariku, supaya aku bisa menjemputmu. Bagaimana keadaanmu sekarang?”

tanyanya sambil meraba kening Elena lalu turun ke leher, tangannya terhenti pada sebentuk kalung berinisial dua huruf E yang saling bertaut.

“Aku cuma masuk angin saja,”

Elena menepis halus tangan suaminya dari kalung pemberian Eugene.

“Kalung baru?” suaminya bertanya penasaran.

“Iya. Kenang-kenangan dari seorang teman,” jawab Elena semakin rikuh.

“Duduklah sebentar,” pinta suaminya. Elena memaksakan dirinya duduk di sofa di sebelah suaminya, menahan sakit kepala yang semakin mendera.

“Mas tidak berangkat kerja hari ini?” tanya Elena berbasa-basi.

“Bagaimana aku bisa kerja? Aku tak tenang jika kau belum pulang,” ditatapnya Elena dengan sisa-sisa kecemasan dan kemarahan yang sekuat tenaga ditahan.

“Maafkan aku ...” Elena menundukkan kepala dalam-dalam.

“Jangan ulangi lagi. Kau hanya boleh pulang malam atau menginap dengan seijinku. Aku tau kau tersiksa dengan pernikahan kita. Tapi sekarang kau istriku, aku yang bertanggung jawab atasmu,” suaranya melunak.

Elena mengangguk takzim. Ia memang tidak mencintai lelaki itu. Tapi ia juga tidak mempunyai alasan untuk membencinya, lelaki itu terlalu baik untuknya. “Aku mau ke kamar, rebahan ...” ujar Elena.

“Kau sudah sarapan?” merasa “Sudah tadi. Mas belum sarapan?” sejurus kemudian Elena itu pertanyaan bodoh. Tentu saja belum, ia tertidur semalaman dan terbangun barusan.

“Istirahatlah. Aku akan menyiapkan sarapanku sendiri. Nanti sore aku akan mengajakmu ke suatu tempat, ada yang sudah saatnya aku ceritakan padamu,”

ia bangkit mengelus rambut Elena sekilas lalu berjalan ke dapur. Elena mengikuti dua langkah di belakangnya lalu ia belok masuk ke dalam kamar. Dilepaskan pakaiannya, ia tidak ingin suaminya mencium sisa-sisa aroma Eugene yang tertinggal di sana. Menggantinya dengan daster selutut tanpa lengan. Lalu merebahkan dirinya ke atas ranjang.

Dari tempatnya berbaring ia bisa melihat pigura foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Keduanya terlihat tegang dan hampir-hampir tidak tersenyum di foto itu. Sekitar enam bulan yang lalu, lelaki itu muncul sekonyong-konyong dalam kehidupannya.

Tidak tanggung-tanggung, ia datang ke rumah untuk melamarnya langsung. Entah bagaimana bisa lelaki itu menjatuhkan pilihan padanya yang jelas jelas tak sekufu. Orangtua Elena seketika jatuh hati begitu melihat penampilan shalih lelaki itu, terlebih wajahnya yang tampan.

Sejujurnya mereka berharap dengan menikahkan Elena dengannya bisa menjauhkan Elena dari Eugene dan membuat Elena menjadi wanita yang berbudi luhur. Mereka percaya Eugene membawa pengaruh buruk pada Elena. Tentu saja Elena menolak mentah-mentah.

Pernikahan macam apa ini?

Sekedar perkenalan dan beberapa lembar CV?

Mata Elena berkaca-kaca hampir tidak percaya membaca status pria itu, seorang duda berusia sepuluh tahun di atasnya, melahirkan seorang gadis berusia lima tahun.

Istrinya telah mendahuluinya dua tahun lalu. Ya Tuhan, rasanya tidak ada pria lajang lainnya. Menjadi istri yang baik belum tentu mampu, apalagi harus menjadi ibu sekaligus?

Namun orang tua Elena bersikeras, menurut mereka seorang duda kelahiran tunggal yang memiliki keyakinan yang sama jauh lebih baik daripada pria lajang yang tidak beragama.

Elena merasa di skak mat. Dramapertentanganituberakhirdengan kekalahan telak di pihak Elena. Ia akhirnya mengiyakan lamaran itu setelah ibunya menjadi sakit karena terlalu memikirkan nasib putri semata wayangnya. Tanggal dan tempat pernikahan sudah ditetapkan sementara Elena belum menemukan bagaimana hal ini harus disampaikan pada Eugene.

Ia seperti berhadapan dengan buah simalakama. Memilih meminta Eugene menikahinya berarti mau tidak mau ia harus melepaskan agamanya dan keluarganya. Meninggalkan Eugene berarti ia harus menikahi orang yang baru dikenal dan sama sekali tidak dicintainya.

Seminggu sebelum pernikahan di salon tempat keduanya melakukan fitting kostum, Elena diperkenalkan kepada seorang gadis kecil. Namanya Maryam, anak dari suami dan mendiang istri pertamanya. Bertubuh montok. Kulitnya putih, matanya bulat, pipinya menggemaskan, mengenakan bergo warna merah muda. Cantik, mungkin seperti ibunya.

“Dia yang akan menggantikan, Ummi?”

“Bukan menggantikan karena Ummi tak tergantikan. Tapi menambah ruang di hati dan kehidupan kita untuk orang baru. Namanya Elena. Kau boleh memanggilnya Ummi Elena jika kau mau.”

“Tidak. Tidak. Panggil Ibu atau Bunda saja,” Elena menolak halus sambil tersenyum. Panggilan ‘ummi’ terasa terlalu berat di sandangnya.

“Kenapa ia tidak memakai kerudung?” tanya Maryam berbisik namun masih cukup terdengar jelas di telinga Elena.

“Mungkin karena ia belum merasakan nikmatnya berkerudung. Setiap orang punya waktunya masing-masing, kita tunggu saja.” Ayah Maryam menjawab dengan balik berbisik.

Wajahnya memerah, baru kali ini ia merasa dipermalukan oleh anak kecil. Belum lagi sepanjang waktu, Maryam terus-menerus menatapnya. Mungkinkah ia tengah membandingkan dirinya dengan umminya? Elena jengah. Duaharimenjelangpernikahannya,

Elena memutuskan untuk memberitahukan Eugene melalui e-mail. Ia tau akan terasa sangat berat jika berbicara langsung lewat telepon dan ia khawatir akan berubah fikiran.

‘Dear Eugene, Aku akan menikah dengan lelaki pilihan orangtuaku.’ Singkat saja isinya.

Tapi dua baris itu kuasa menjungkirbalikkan perasaan keduanya, Elena dan Eugene. Tidak ada balasan apa-apa dari Eugene. Tapi ia tahu telah menghancurkan hati Eugene, begitu pula hatinya. Masih seperti mimpi. Sampai akhirnya pada waktu yang ditentukan Elena benar benar menemukan namanya dan nama lelaki itu terpajang besar-besar di sejumlah papan rangkaian bunga.

‘Selamat atas Pernikahan IBNU dan ELENA’

Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 7 Telah Selesai

Bagaimana Novel Elena : Si Gadis Tangguh Bab 7 nya? Seru bukan? Jangan lupa untuk membaca kelanjutan kisahnya di bab-bab selanjutnya ya Novel Lovers.

Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.